Rabu, 03 Juli 2013

KESENIAN RAMPAK BEDUG BANTEN



RATIH NURLAEAWATI*

Seni rampak bedug adalah kesenian tradisional masyarakat pandeglang Banten, seni rampak bedug merupakan titik kulminasi estetik dari tradisi ngadu bedug yang biasa dilakukan warga pada perayaan hari raya iedul fitri atau iedul adha. Perangkat peralatan yang digunakan meliputi : satu set bedug kecil selaku pengatur irama, tempo dan dinamika, sedangkan bedug besar sebagai bass, sementara melodi hanya berasal dari lantunan shalawatan yang dilakukan sambil menabuh. Pola tubuh yang biasa mereka sebut dengan lagu diantaranya :pingping cak-cak, nangtang, celementre, rurudatan, antingsela, sela gunung, kelapa samanggar, dan lain-lain.

A.    Pengertian Rampak Bedug

Kata " bedug ' sedah tidak asing lagi bagi telinga bangsa Indonesia. Bedug hampir terdapat disetiap mesjid, sebagai alat atau benda informasi datangnya waktu sholat 5 waktu. Demikian juga dengan seni bedug semacam ngabedug atau ngadulag sudah akrab ditelinga kita. Tapi " Rampak Bedug " akan terasa asing , sebab " Rampak Bedug " hanya tedapat di daerah Banten. Kata " Rampak " mengandung arti " serempak ", juga " banyak " jadi " Rampak Bedug " adalah seni bedug dengan menggunakan waditra berupa " banyak " bedug yang di tambuh secara " serempak " sehingga menghasilkan irama khas yang enak didengar.




B. Maksud dan Fungsi Rampak Bedug

Rampak bedug pertama kali dimaksudkan untuk menyambut bulan suci Ramadhan, persis seperti seni ngabedug dan ngadulag. Tetapi karena merupakan suatu kreasi seni yang genial dan mengundang perhatian penonton, maka seni rampak bedug ini berubah menjadi suatu seni yang layak jual.Rampak Bedug selain berfungsi religi yakni menyemarakkan Bulan Suci Ramadhan dengan alat - alat memang dirancang para ulama juga memiliki fungsi rekreasi/ hiburan.

C. Pemain Rampak Bedug dan Fungsinya

Dimasa yang lalu pemain rampak bedug semuanya laki - laki. Tapi, sekarang sama halnya dengan banyak seni lainnya terdiri dari laki - laki dan perempuan. Jumlah pemainnya sekitar 10 orang, laki - laki 5 orang dan perempuan 5 orang. Adapun fungsi masing - masing pemain sebagai berikut :
  1. Pemain laki - laki sebagai penabuh bedug sekaligus kendang
  2. Pemain perempuan sebagai penabuh bedug
  3. Baik laki - laki maupun perempuan sekaligus sebagai penari
D. Waditra Rampak Bedug dan Fungsinya
  1. Bedug besar, berfungsi sebagai bass, yang memberi rasa puas ketika mengakhiri suatu bait syair dari lagu
  2. Ting tir, terbuat dari batang pohon kelapa berfungsi sebagai penyelaras irama lagu bernuansa spiritual ( takbiran,shalawatan,marhaban, dll )
  3. Anting caram dan anting karam, terbuat dari pohon jambe dan dililiti kulit gendang, berfungsi sebagai pengiring lagu dan tari
E. Busana yang dipakai Pemain Rampak Bedug

Busana yang di pakai oleh pemain Rampak Bedug adalah pakaian muslim dan muslimah yang disesuaikan dengan perkembangan zaman dan unsur kedaerahan. Pemain laki - laki, misalnya mengenakan pakaian pesilat lengkap dengan sorban khas Banten. Adapun pemain perempuan mengenakan pakaian khas tari - taria tradisional, tapi bercorak kemoderan dan relative religius, misalnya menggunakan rok panjang bawah lutut dari bahan batik dengan warna dasar dan didalamnya mengenakan celana panjang warna merah sejenis celana panjang pesilat. Bajunya tangan panjang yang dikeluarkan dan diikat dengan ikat pingggang besar . Adapun rambutnya menenakan sejenis sanggul bunga yang terbuat dari rajutan benang semacam penutup kepala bagian belakang.




* Mahasiswa Pendidikan Sejarah STKIP Setia Budhi Rangkasbitung (4322310030017)
[1]  baduybantenheritage.blogspot.com, bantenblog.blogspot.com/.../rampak-bedug.html

DOGDOG LOJOR


RATIH NURLAELAWATI*

Dodog Lojor adalah salah satu kesenian tradisional orang Sunda yang memperpadukan antara seni gerak dan vokal yang syair-syairnya bersifat lelucon.Nama dogdog lojor sendiri diambil dari alat musik yang digunakan, yaitu dogdog karena jika dipukul mengeluarkan bunyi “dog”.Dan, karena dogdog pada umumnya berbentuk lojor (panjang), maka keseniannya disebut sebagai “dogdog lojor”.



Pada masa lampau dogdog lojor merupakan pelengkap upacara adat, seperti upacara: sesudah panen, ngalaksa, seren taun, dan ngaruat. Namun demikian, manakala ada kenduri khitanan dan perkawinan biasanya (tanpa diundang) para pemain dogdog lojor tampil dengan berpakaian khasnya, yaitu baju kampret dan celana pangsi berwarna hitam.Mereka berjalan mengelilingi rumah si empunya hajat tiga kali sambil memukul dogdog dan membunyikan angklung.Setelah mengelilingi rumah milik si empunya hajat, mereka pergi menuju rumah-rumah lainnya sambil tetap membunyikan alat-alat yang dibawanya.Setelah semua rumah-rumah penduduk dikelilingi, maka orang yang membawa dogdog lojor dan angklung datang kembali ke tempat rumah yang punya hajat. Di sana mereka diberi makanan dan minuman oleh yang punya hajat. Selesai makan, mereka pergi berkeliling lagi sambil men-dogdog dan meng-angklung. Ini merupakan pemberitahuan kepada masyarakat bahwa di kampung itu ada yang mengadakan selamatan, baik itu berupa khitanan atau pernikahan dan sekaligus memohon doa restu agar hajatan dapat berjalan dengan selamat.

Dewasa ini dogdog lojor bukan merupakan pelengkap upacara sakral, akan tetapi sudah menjadi hiburan biasa yang tampil dalam berbagai kesempatan, seperti: gelar senja (tanggal 12 Maret 1990 di Gedung Sate Bandung), penutupan musyawarah keluarga Banten di Jakarta, peresmian SMA Negeri Bayah, dan setiap peristiwa perpisahan Kepala PT Aneka Unit Pertambangan Emas.

Peralatan

Ada beberapa peralatan yang digunakan dalam permainan dogdog lojor, yaitu: dogdog lojor 2 buah, angklung buhun 4 buah, gendang 1 buah, goong 1 buah, kecrek; dan kecapi 1 buah.Dogdog lojor dibuat dari pohon pinang atau bambu besar (awi gombong) yang panjangnya kurang lebih 1,24 cm; lubang belakang dengan garis tengah 15 cm; lubang muka dengan garis tengah 20 cm, ditutup oleh kulit kambing atau kulit biri-biri. Untuk mengikat kulit agar tidak lepas diperlukan rarawat atau tali rotan dan memakai pasak.Pasak juga berfungsi sebagai pengatur bunyi atau suara dogdog.Fungsi dogdog sebagai komando baik kepada para nayaga maupun pemainnya.

Angklung dibuat dari ruas bambu, baik jenis bambu wulung atau bambu jenis temen; bahan pelengkap lainnya, yaitu rotan sebagai pengikat bambu, kain atau daun pelas sebagai penghias angklung.Fungsi angklung adalah untuk memberikan irama kepada bunyi dogdog. Gendang dibuat dari bahan kayu nangka, kayu rambutan, kayu mahoni.Sebagai penutup kedua lubang gendang adalah kulit kambing atau kulit sapi.Untuk mengikat kulit tersebut digunakan rarawat dan simpay dari rotan serta wengku (pengikat) gendang yang dibuat dari bambu atau rotan.Fungsinya untuk membawa ritme, mengatur lagu (menaik-turunkan dan memberhentikan lagu).

Goong atau kempul dibuat dari besi atau perunggu, berbentuk bulat cekung.Fungsinya untuk menambahkan keserasian terhadap bunyi gendang dan lagu.Kecrek yang dibuat dari lempengen besi untuk menambahkan semarak dalam tetabuhan tersebut. Kecapi adalah waditra yang bersenar yang terdiri atas 7 sampai dengan 26 utas kawat, dengan resonator dari kayu dan cara memainkannya dipetik. Fungsinya adalah sebagai pembawa melodi atau pengiring lagu.

Pemain dan Kostum

Jumlah keseluruhan pemain dogdog lojor berkisar 18-20 orang. Mereka terdiri atas: penabuh waditra atau nayaga, penari, juru kawih ala beluk dan juru kawih perempuan. Sebagai catatan, pada masa lalu dogdog lojor diperankan oleh laki-laki.Akan tetapi, sekarang para perempuan juga berperan dalam permainan tersebut.

Adapun kostum yang dikenakan adalah sebagai berikut. Pembawa dogdog lojor berbaju kampret dan celana pangsi atau cenala sontog (berwarna hitam), ikat pinggang atau selendang (untuk memakai kain sarung), dan tudung ikat kepala gaya barangbang semplak. Pembawa angklung sama pakaiannya seperti pemain dogdog lojor, hanya warnanya berbeda; pemain angklung mengenakan baju kampret berwarna kuning dan pakaian bagian bawahnya/pangsi berwarna hitam. Adakalanya antara baju dan celana sama warnanya, hitam-hitam, atau kuning-kuning. Para nayaga pun berpakaian sama dengan para pemain angklung dan juru kawih ala beluk. Hanya, juru kawih perempuan mengenakan kain kebaya sesuai dengan pakaian adat Priangan.Para penari perempuan berpakaian seperti pemain dogdog lojor, yaitu baju kampret celana pangsi berwarna hitam.Dengan pakaian itu lebih leluasa, karena gerakan-gerakannya menyerupai jurus-jurus silat.

Jalannya Permainan

Setelah semua pemain dogdog lojor siap, maka yang pertama kali ditabuh adalah goong (tiga kali). Kemudian, disusul oleh bunyi gendang untuk menandakan permainan akan segera dimulai. Tidak lama kemudian, masuklah iringan yang terdiri dari 2 orang pemegang dogdog lojor dan 4 orang penabuh atau pembawa angklung ke tempat arena pementasan sambil berjalan berjingkat-jingkat dan menari sambil menggerakkan anggota badan mengikuti suara alat yang mereka tabuh. Selesai mengelilingi arena pementasan sebanyak 1-2 putaran mereka duduk/bersila, kemudian “Kidung” ditembangkan oleh juru kawin perempuan dengan diiringi kecapi dan gendang, serta goong.Adakalanya penembang kidung dibawakan oleh pemain dogdog lojor atau pemain angklung.

Sebagai catatan, isi kidung dapat dikembangkan sesuai dengan situasi.Berikut ini adalah salah satu contoh kidung pembukaan.

Bismillah ngawitan ngidung
Nyebat asmaning Alloh
Neda rakhmat hidayahna
Ginuluran nu utami
Tebihkeun lara tunggara
Salamet sawargi-wargi

Sim abdi unjuk pihatur
Bilih kirang sihaksami
Hapunten sateuacanna
Tangtos kirang tata-titi
Dina sagala rupina
Tebih pisan ti utami

Ngiring sambung tumalapung
Dina pagelaran seni
Budaya Banten Selatan
Nu mangrupi dogdog lojor
Dipirig tepak kendangna
Dijentrengan ku kacapi
Amin yaa robbal alamin
Mugi Gusti nangtayungan

Kemudian, dilanjutkan dengan sebuah kawih yang isinya tentang dogdog lojor atau mengenai apa yang sedang dipagelarkannya. Kawih tentang dogdog lojor adalah
“Kawih Salaka Domas”

Dogdog-dogdog lojor seni buhun ti baheula 2x
Kudu dipiara dirawat ku urang Sunda 2x

Seni ti karuhun 2x
Omat tong dimomorekeun 2x
Hayu urang jungjung tradisi budaya Banten 2x

Neda dihapunten tangtos kirang ti utami 2x
Ieu dogdog lojor raehan mangsa kiwari 2x

Tah, mung sakitu ti rombongan dogdog lojor 2x
Kanca mitra Lebak nyanggakeun wilujeng tepang 2x

Bersamaan dengan usianya kawih yang ditembangkan, para pemain menabuh dogdog lojor sambil menyusun barisan menjadi dua group yang akan memulai permainannya.

Unsur mengadu kekuatan terdiri dari adu: kepala, pundak, kaki, pantat, dan engkle Selesai mengadu kekuatan, kemudian mereka memberi kesan seolah-olah permainan usai. Mereka berpura-pura hendak pulang; tapi sebenarnya menjemput 4 orang puteri untuk dibawa ke arena.Kemudian ke-4 puteri tersebut menari-nari di arena.Dan, dengan selesainya tarian mereka, maka berakhirlah permainan dogdog lojor. (pepeng)

      




* Mahasiswa Pendidikan Sejarah STKIP Setia Budhi Rangkasbitung (4322310030017)
[1] Sariyun, Yugo, dkk,. 1992. Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Jawa Barat. Bandung:       Depdikbud.

BULAN KAWALU - SAATNYA KAMPUNG BADUY DALAM MENUTUP DIRI



RATIH NURLAELAWATI*

            Hari ini , 1 Februari 2012 bertepatan dengan penanggalan versi Kanekes, adalah awal masuknya Bulan Kawalu. Bulan Kawalu adalah bulan suci bagi masyarakat Kampung Baduy terhitung hari ini hingga tiga bulan ke depan. Selama bulan Kawalu, akan diadakan beberapa upacara adat lama Kampung Baduy khususnya di kampung Baduy Dalam yaitu Cibeo, Cikertawarna dan Cikeusik. Selama bulan Kawalu, pengunjung secara mutlak dilarang masuk Kampung Baduy Dalam.

Sunyi di Kampung Baduy




Bulan Kawalu tahun ini ternyata dimulai mundur dari kebiasaan lama dikarena beberapa hal dan salah satunya musim panen Padi Huma yang tidak serempak karena terjadinya perubahan musim tanam. Perubahan diluar waktu yang semestinya tentu melibatkan musyawarah tetua adat yang dikepalai para Puun dari tiga kampung Baduy Dalam. Dari sekian rangkaian upacara adat selama bulan suci, satu pun tidak dapat disaksikan oleh orang bukan Baduy atau tamu luar. Serta orang Baduy Dalam menahan diri untuk bepergian ke luar kampung mereka. Inilah saat orang Baduy Dalam benar-benar berkonsentrasi pada penyucian diri dan kampungnya.Di akhir bulan Kawalu, para tetua dan tokoh adat melakukan upacara besarnya adalah perjalanan ziarah ke Saka Domas suatu tempat yang mereka sucikan terletak secara rahasia baik untuk sebagian warga kampung Baduy sendiri apalagi bagi pengunjung dari luar Kampung Baduy untuk sekedar berwisata. 

`Apakah selama bukan suci Kawalu masih bisa berwisata ke Kampung Baduy ? tentu saja bisa. Hanya saja wisatawan dan pengunjung dilarang masuk ke wilayah Baduy Dalam. Tetapi masih bisa mengunjungi perkampungan Baduy Luar yang jumlahnya sekitar lima puluhan lebih. Alam dan adat kebiasaan Baduy Luar masih menarik untuk dikunjungi. Namun apabila mengagendakan kunjungan termasuk ke Baduy Dalam, diperkirakan baru bisa dilakukan awal mei 2012.

Kawalu di Baduy Dalam 

Kemudian selama 3 bulan kawalu tersebut, selain puasa ada juga ritual lain, yaitu bersih-bersih kampung, atau razia. Hari razia/bersih-bersih kampungpun ditentukan oleh si puun. Biasanya dalam bersih-bersih kampung ini, barang elektronik dan lainnya yang dianggap tabu oleh mereka akan dibuang atau dimusnahkan. Oleh karena itu, makanya pada saat upacara adat kawalu tersebut, pendatang/pengunjung tidak diperbolehkan menginap, mungkin agar mereka (masyarakat baduy) bisa khusyuk menjalankan kawalu.

Pisau, kemenyan, minyak putri duyung dan kain putih
 
Saat kawalu, pendatang/pengunjung tidak diperkenankan untuk menginap di Baduy.Menurut guide, jika menginap harus membawa syarat-syaratnya, baru diperbolehkan untuk menginap disana. Untung saja warga sekitar (Masyarakat Ciboleger) menyediakan semua syarat-syarat itu, jadi kami tidak perlu pusing lagi mencarinya. Berdasarkan informasi dari guide, kami harus membawa : kemenyan, kain putih (kain kafan), pisau, dan minyak putri duyung. Dimana kemenyan, minyak putri duyung dan pisau dibungkus oleh kain putih tersebut kemudian diikat oleh batang pohon yang sudah dikeringkan. Benar-benar tradisional.


Bungkusan seserahan

Di baduy dalampun saya mencoba berinteraksi dengan penduduk sekitar, saat para ibu-ibu sedang sibuk menumbuk padi, dan sayapun penasaran ingin mencoba menumbuk padi. Tetapi tidak boleh, mereka bilang pamali. Hmmm,, mungkin karena kawalu (pikir saya) ... hahaaa Sampai di baduy dalem itu jam 8 malem, kami disuruh istirahat bersih-bersih,makan dan istirahat. Besok pagi, kami langsung menemui sang puun di ladang tempat ia bekerja. Disana, didalam rumah di tengah ladang puun, kami dipanggil satu-persatu. Saat saya masuk ditemani oleh guide, bau kemenyan pun mulai tercium. Dan sang Puun mulai melancarkan aksinya menginterogasi. Nama, alamat, pekerjaan, dan tujuan datang ke baduy. Untung saja ada guidenya, karena dia yang mentransletkan setiap kalimat yang keluar dari mulut si puun.




* Mahasiswa Pendidikan Sejarah STKIP Setia Budhi Rangkasbitung (4322310030017)
[1] berwisata.blogdetik.com, baduybantenheritage.blogspot.com

Senin, 01 Juli 2013

UPACARA SEBA SUKU BADUY


RATIH NURLAELAWATI*

Seba berasal dari bahasa sunda, saba, yang berarti berkunjung atau mengunjungi.  Adapun upacara Seba itu sendiri adalah sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat suku Baduy.  Upacara ini sudah ada sejak zaman padjajaran. Dan upacara ini juga dipersembakan kepada Prabu Siliwangi dan Kian Santang, karena mereka meninggalkan benda pusaka di Situs Kabuyutan Ciburuy.Upacara Seba adalah suatu pengabdian kepada seseorang yang berkedudukan tinggi dengan disertai penyerahan suatu yang baik. Adapun penyerahan itu ditujukan kepada arwah-arwah lelehur, yaitu arwah Prabu Siliwangi dan Kian Santang, karena kedua tokoh tersebut mempunyai ilmu dan kesaktian yang tinggi, maka benda-benda peninggalannya merupakan benda pusaka yang mempunyai kekuatan gaib yang bertuah.namun Seba tahu ini masyarakat Baduy datang ke Pendopo Kabupaten Lebak membawa berbagai hasil bumi seperti pisang, padi, buah-buahan serta tanaman lainnya untuk dipersembahkan kepada Bupati Lebak Mulyadi Jayabaya.



Tata Cara  pernikahan

Bagi masyarakat Baduy sendiri, perkawinan merupakan sesuatu yang sakral. Karena alasan itulah maka tata cara perkawinan pun dimulai dari proses peminangan sampai membina rumah tangga juga diatur dalam ketentuan adat Baduy yang mengikat. Menurut mereka, perkawinan adalah merupakan hukum alam yang harus terjadi dan dilakukan oleh setiap manusia tanpa terkecuali. Orang Baduy menyebutnya perkawinan sebagai rukun hirup, artinya bahwa perkawinan harus dilakukan, karena jika tidak maka ia akan menyalahi kodratnya sebagai manusia.Sebelum lamaran pertama diajukan, puun harus mengetahui dan menyetujui rencana pernikahan ini. Puun juga ikut menentukan hari yang baik untuk menikah. Dalam setahun, setiap puun hanya bisa menikahkan sampai enam pasang. Jika permintaan pernikahan lebih dari enam pada tahun itu, pasangan yang terakhir harus menunggu tahun berikutnya.

Ada tiga proses lamaran yang diajukan keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan :
  1. Lamaran pertama diajukan untuk mengungkapkan keinginan meminang anak perempuan.
  2. Setelah delapan bulan, lamaran kedua diajukan. Lamaran kedua merupakan bukti kesungguhan keluarga laki-laki menikah dengan anak perempuan keluarga itu.
  3. Selang lima bulan, lamaran ketiga diajukan, dan jika disetujui pernikahan dapat segera dilangsungkan.
Ketiga lamaran ini harus dilalui oleh setiap warga Baduy, terutama di Baduy Dalam. Untuk Baduy Luar, banyaknya lamaran bisa kurang dari tiga kali. Selama masa lamaran ini, pinangan laki-laki masih mungkin ditolak. Pernikahan dilakukan secara sederhana. Baju yang dikenakan oleh mempelai tidak berbeda dari baju khas suku Baduy, hanya saja baju ini baru dan warnanya putih.SUKU Baduy selama ini dikenal sebagai suku yang memegang teguh adat untuk melindungi diri dari pengaruh luar yang begitu kencang menerpa. Pernikahan suku Baduy adalah bentuk yang tak luput dari ketetapan menjalankan adat, salah satu langkah yang ditempuh untuk menjaga adat ini dengan menjaga “kemurnian” warga Baduy, yaitu dengan menolak pernikahan di luar suku Baduy.
Baduy; Anti Poligami

Sebuah masyarakat yang katanya tidak modern, kolot, dan terasing itu, ternyata ada sebuah kearifan yang harus ditiru. Kearaifan itu adalah adanya pelarangan adat Baduy yang melarang masyarakat Baduy untuk melakukan poligami. Praktek poligami bagi masyarakat Baduy justru akan membuat terpecahnya keutuhan masyarakat Baduy itu sendiri.Bagi warga Baduy Dalam, pernikahan adalah sekali untuk seumur hidup. Mereka tidak mengenal perceraian. Perceraian hanya terjadi jika salah satu meninggal. Janda/duda yang ditinggalkan boleh menikah lagi. Proses yang harus ditempuh sebelum pernikahan adalah upaya untuk mendapatkan pendamping yang tepat demi kelanggengan pernikahan.
   


* Mahasiswa Pendidikan Sejarah STKIP Setia Budhi Rangkasbitung (4322310030017)
[1] berwisata.blogdetik.com, baduybantenheritage.blogspot.com